04-03-2010
English
Distan-PI. Konsep dasar pengembangan pertanian saat ini harus bergeser dari menjual produk pertanian yang dihasilkan ke arah mengusahakan produk pertanian yang laku di pasaran atau yang diminati pasar. Untuk mendukung hal tersebut dibutuhkan sistem agroindustri hulu dan hilir yang baik. Bahkan di Thailand, sertifikat dan label halal sudah disertakan pada produk akhir untuk menembus pasar Timur Tengah. Hal ini dikemukakan oleh Dr. Ir. Zaenal Bahruddin, M.Sc., Direktur Jenderal Pengolahan Hasil Pertanian (PPHP) Kementerian Pertanian R.I. pada acara penyerahan Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) Lingkup Ditjen PPHP untuk Provinsi DIY dan kabupaten, hari Kamis (4/03) di Ruang Rapat Gedung C Dinas Pertanian Provinsi DIY. Pada kesempatan tersebut Dr. Zaenal menegaskan bahwa aspek PPHP yang merupakan subsistem agribisnis hilir memiliki kontribusi besar terhadap Produk Nasional Bruto (GDP). Produk pertanian yang akan dikembangkan tahun 2010 adalah produk agroindustri pedesaan. Produk ini meliputi produk segar dan olahan yang bernilai tambah, produk untuk kebutuhan domestic guna substitusi impor dan ekspor. Hal ini perlu didukung oleh kesiapan subsistem agribisnis hulu dan on farm, artinya produk pertanian yang dihasilkan harus sudah memiliki sertifikat, nomor register dan ber-SNI. Selain itu untuk mendukung kedua hal tersebut diperlukan pasar yang jelas yaitu dengan mempersiapkan infrastruktur dan kelembagaan pemasaran yang baik, dukungan market inteligent serta pemasaran yang kuat. Dalam acara tersebut juga dipaparkan komoditas pertanian untuk ketahanan pangan, reorientasi ekspor, emerging produk dan substitusi impor. Produk ketahanan pangan meliputi beras, jagung, kedelai, daging sapi, dan gula. Produk reorientasi ekspor meliputi kelapa sawit, kakao, kopi, teh, karet, dan daging ayam. Emerging produk meliputi buah tropika, sayuran, biofarmaka, minyak atsiri, dan tanaman hias. Produk substitusi impor meliputi susu segar, tepung (cassava) dll.
Pada acara tersebut mengemuka juga soal tanaman organik yang saat ini mulai banyak diminati pasar. Petani perlahan–lahan mulai meninggalkan pertanian padat-kimia menuju budidaya secara organik. Menurut Dirjen PPHP diperlukan adanya inisiator pertanian organik yang juga merupakan perintis atau praktisi ekspor produk organik sekaligus peduli kepada petani.
”Tahun 2010 dan selanjutnya diharapkan semua komoditas pertanian harus terjadi peningkatan kuantitas, kualitas dan kontinuitas ditambah dengan keseragaman. Terwujudnya hal tersebut harus didukung kegiatan penelitian dan pengembangan komoditi pertanian yang optimal,” kata Dirjen PPHP pada akhir arahannya. (dj) |